Entri Populer

Entri Populer

Entri Populer

Entri Populer

Sabtu, 16 Maret 2013

Aspek-aspek psikologis siswa dan pengaruhnya dalam manajemen kelas serta kualitas



Aspek-aspek psikologis siswa dan pengaruhnya dalam manajemen kelas serta kualitas pembelajarannya
OLEH ADI SATRIA RAHMA
the cuys or the muslim boyz
A.    Pendahuluan
Didalam dunia pendidikan peserta didik merupakan objek yang menjadi sasaran dari tujuan pendidikan sehingga seorang guru harus memperhatikan keadaaan fisiologis maupun psikologisnya. Kedua keadaan tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar peserta didik. Jika salah satu dari aspek tersebut mengalami kendala atau masalah maka akan berdampak buruk pada tingkat keberhasilan belajarnya. Jadi seorang guru harus memperhatikan kedua hal diatas.
Jadi untuk itualah pemakalah mengangkat judul tentang Aspek-aspek psikologis siswa dan pengaruhnya dalam manajemen kelas serta kualitas pembelajarannya. Agar para pembaca bisa mengetahui serta memahami aspek-aspek psikologis siswa karena akan berkaitan juga terhadap opla-pola belajar siswa serta hal-hal yang akan mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar.

B.     Sub Pokok Pembahasan
Adapun pokok pembahasan yang pemakalah bahas yaitu:
a.       Aspek-aspek psikologis siswa dalam hubungannya dengan pengelolaan kelas
b.      Pola-pola belajar siswa
c.       kriteria dan factor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa






PEMBAHSAN
A.    ASPEK-ASPEK PSIKOLOGIS SISWA
1.      Aspek Motivasi
Foto Dhechai's Orchid.Motivasi adalah: sesuatu yang mendorong individu untuk bertindak dalam melajkukan sesuatu. Dengan kata lain motivasi adalah: sebuah dorongan yang mucul dari dalam diri individu untuk melakukan suatu aktivitas guna untuk mencapi tujuan yang diinginkan[1]
Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:
a.      Motivasi intrinsik
Yaitu: hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah: perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupoan masa depan siswa yang bersangkutan.
b.      Motivasi ektrinsik
Yaitu: hal dan kedaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru dan seterusnya merupakan contoh-contoh kongrit motivasi ektrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar.[2]
Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal maupun ekternal, akan menyebabkan kurang bersemangat nya siswa dalam melakukan proses mempelajari materi-materi pelajaran baik disekolah maupun dirumah.

2.      Self Consept
Konsep diri atau self consept adalah gambaran tentang diri sendiri dalam membandingkannya dengan orang lain atau dengan kata lain kesadaran seseorang akan dirinya, bagaimana seseorang mempunyai pengertian tentang dirinya sendiri. Sementara Cawagas menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasi, kelemahan, serta kelebihannya.
Sementara itu, ada beberapa strategi yang mungkin dapat dilakukan oleh seorang guru dalam mengembangkan konsep diri peserta didik yaitu:
a.       Membuat siswa meras mendapat dukungan dari guru
Dalam mengembangkan konsep diri yang positif, siswa perlu mendapt dukungan dari guru. Dukungan tersebut dapat ditunjukkan dalam bentuk dukungan emosional seperti: memberikan perhatin, simpati, kepedulian serta dapat pula diukungan berupa pengahrgaan.
b.      Membuat siswa merasa mampu
Ini dapat dilakukan dengan cara menunjukkan sikap dan pandangan yang positif terhadap kemampuan yang dimiliki siswa.
c.       Mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan realistis
Guru harus membentuk siswa untuk mencapai tujuan yang hendk dicapinya yang sesuai dengan cita-cita serta kemampuan yang dimilikinya.
d.      Mendorong siswa agar merasa bangga dengan dirinya
Ini dapat dilakukan oleh seorang guru dengan cara memberikan dorongan kepada siswa agar bangga dengan prestasi yang dimilikinya. Cara ini merupakan salah satu kunci agar ia memiliki kepercayaan terhadap potensi seta kemampuan yang dimilikinya.[3]

3.      Kreativitas
Menurut Supriadi Kreativitas adalah: kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relative berbeda dengan apa yang telah ada.[4] Sementara menurut Utami muanandar kreativitas merupakan kemampuan untulk melihat atau memikirkan hal yang liuar biasa, yang tidak lazim, memasukkan informasi yang tampaknya tidak berhubungan serta dapat mencetuskan solusi atau gagasan baru[5]
Dengan demikian kerativitas ialah: kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya serta dengan menggunakan cara-cara yang baru yang hasilnya bisa berguna bagi dirinya dan juga orang lain.
Dalam mengembangkan kreativitas siswa guru perlu menciptakan situasi belajar mengajar yang banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut serta memecahkan masalah, mengembangkan gagasan atau kosep serta memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif bertanya terhadap materi yang dismpaikan. Situasi demikian menuntut pula sikap yang lebih demokratis, terbuka da bersahabat anatara guru dengan siswa.[6]
Faktor penting dalam meningkatkan kreativitas di sekolah adalah peran guru. Banyak sekali hal yang dapat dilakukan guru di sekolah untuk merangsang dan meningkatkan daya pikir siswa, sikap dan perilaku kreatif siswa, melalui kegiatan di dalam atau di luar kelas.
Potensi kreatif siswa di sekolah dapat ditingkatkan dengan cara mengusahakan iklim di dalam kelas yang dapat menggugah kreativitas siswa.
Selanjutnya guru harus menghargai keunikan pribadi dan potensi setiap siswa dan tidak perlu selalu menuntut dilakukannya hal-hal yang sama.
selain itum, dalam kegiatan belajar, proses berfikir kreatif dan pemecahan masalah secara kreatif dirangsang dengan mengundang siswa untuk mengajukan pertanyaan, untuk menemukan masalah sendiri, untuk menggunakan imajinasinya dalam mengemukakan macam-macam gagasan atau kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan. Dalam hal ini guru lebih banyak memberi umpan balik dan meminta siswa untuk menilai sendiri produk-produk kreativitasnya (internal locus of evaluation).[7]

4.      Curiosity (rasa ingin tahu)
Salah satu aspek yang bersifat kondisional bagi pengembangan siswa adalah ‘’rasa ingin tahu (curiosity). Rasa keingintahuan yang ada pada anak sejalan dengan daya kreativitasnya.


5.      Anxiety (kecemasan)
Kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif justru malah akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan.
Di sekolah, banyak faktor-faktor pemicu timbulnya kecemasan pada diri siswa. Target kurikulum yang terlalu tinggi, iklim pembelajaran yang tidak kondusif, pemberian tugas yang sangat padat, serta sistem penilaian ketat dan kurang adil dapat menjadi faktor penyebab timbulnya kecemasan yang bersumber dari faktor kurikulum. Begitu juga, sikap dan perlakuan guru yang kurang bersahabat, galak, judes dan kurang kompeten merupakan sumber penyebab timbulnya kecemasan pada diri siswa yang bersumber dari faktor guru. Penerapan disiplin sekolah yang ketat dan lebih mengedepankan hukuman, iklim sekolah yang kurang nyaman, serta sarana dan pra sarana belajar yang sangat terbatas juga merupakan faktor-faktor pemicu terbentuknya kecemasan pada siswa.yang bersumber dari faktor manajemen sekolah.
Mengingat dampak negatifnya terhadap pencapaian prestasi belajar dan kesehatan fisik atau mental siswa, maka perlu ada upaya-upaya tertentu untuk mencegah dan mengurangi kecemasan siswa di sekolah, diantaranya dapat dilakukan melalui:
1.    Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk dapat mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam proses pembelajarannya.
2.    Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya dapat mengembangkan “sense of humor” dirinya maupun para siswanya.
3.    Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi “game” atau “ice break” tertentu, terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif.. Dalam hal ini, keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok tampaknya sangat diperlukan.
4.    Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.
5.    Memberikan materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat. Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat menyebabkan siswa frustrasi.
6.    Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas, dimana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa.
7.    Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self assessment) atas tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat berlangsungnya pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif selama dan sesudah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.
8.    Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan sarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, seperti ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya
9.    Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Dalam hal ini, ketersediaan konselor profesional di sekolah tampaknya menjadi mutlak adanya.[8]
Dengan demikian kondisi psikologis siswa sangat berpengaruh terhadap pengelolaan kelas, itu terlihat jika siswa memiliki kendala dalam salah satu aspek-aspek diatas maka akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar. Misalnya seorang siswa yang memiliki motivasi yang rendah terhadap kemauannya untuk belajar
B.     Pola-Pola Belajar Siswa

Gagne menggolongkan pola-pola belajr siswa ke dalam beberapa tipe, yaitu:
1.      Signal Learning (Belajar Isyarat)
Tipe ini merupakan tahap yang paling dasar sehingga tidak menuntut persyaratan, namun merupakan tingkat yang harus dilalui untuk tipe belajar yang lebih tinggi. Signal learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar prilaku yang bersifat infoluntary (tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya).
Adi Satria RahmaContohnya: aba-aba “siap!” merupakan suatu sinyal atau isyarat untuk mengambil sikap tertentu. Contoh lainnya adalah melihat wajah ibu menimbulkan rasa senang. Wajah ibu disini merupakan isyarat yang menimbulkan perasaan rasa senang itu.
2.      Stimulus Respon Learning (Belajar Rangsangan Tanggapan)
Tipe belajar ini merupakan tipe belajar yang  termasuk ke dalam instrumental conditioning atau belajar dengan trial and error. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktor reinforcement. Waktu antara stimulus pertama dan berikutnya sangat penting semakin singkat jarak antara stimulus dengan rangsangan maka semakin kuat pula reinforcementnya. Repson dapat diatur dan dikuasai bersifat spesifik tidak umum dan kabur. Respon diperkuatkan dengan adanya imbalan.
Contohnya: Saat seorang guru memberikan suatu pertanyaan pada seorang siswa ketika siswa itu mampu menjawab maka stimulus yang diberikan guru tersebut dapat berupa kata-kata ‘’betul’’, ‘’bagus’’, dan sebagainya. Ungkapan tersebut dapat memberikan semacam semangat atau gairah belajar pada siswa tersebut sebagai respon dari stimulus yang diberikan.
3.      Chaining (mempertautkan) dan Verbal Association (asosiasi verbal)
Kedua tipe belajar ini setaraf, ialah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan yang lainnya. Tipe Chaining berkenaan dengan aspek-aspek perilaku psikomotorik. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe ini antara lain: secara internal anak didik sudah harus menguasai sejumlah satuan pola S-R. selain itu, prinsip kesinambungan , pengulangan tetap penting bagi berlangsungnya proses Chainning. dan tipe Verbal Association berkenaan dengan aspek-aspek belajar verbal. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya proses belajar ini antara lain secara internal terdapat pada diri siswa harus sudah terkuasai sejumlah satuan-satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Di samping itu, prinsip contiguity, repetition, dan reinforcement masih tetap memegang peranan penting bagi berlangsungnya proses chaining dan association tersebut.
4.      Discrimination Learning (belajar mengadakan perbedaan)
Dalam tahap belajar ini, siswa mengadakan diskriminasi (seleksi dan pengujian) di antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya kemudian memilih pola-pola sambutan yang dipandangnya paling sesuai. Kondisi yang utama untuk dapat berlangsungnya proses belajar ini ialah siswa telah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta memiliki kekayaan pengalaman (pola-pola satuan S-R)

5.       Concept Learning (belajar konsep, pengertian)
Berdasarkan pesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan juga objek-objeknya ia membentuk suatu pengertian atau konsep-konsep. Kondisi utama yang diperlukan bagi proses berlangsungnya belajar tipe ini ialah terkuasainya kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.
6.      Rule Learning (belajar membuat generalisasi, hukum-hukum)
Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi dari berbagai konsep (pengertian) dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal sehingga siswa dapat membuat konklusi tertentu.
7.       Problem Solving (belajar memecahkan masalah)
Pada tingkat ini siswa belajar merumuskan dan memecahkan masalah (memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik) dengan menggunakan berbagai rule yang telah dikuasainya. Menurut John Dewey (Loree,1970:438-439) dalam bukunya How We Think, proses belajar pemecahan masalah itu berlangsung sebagai berikut:
a.       Become aware of the problem (menyadari adanya masalah)
b.      Clarifying and defining the problem (menegaskan dan merumuskan masalahnya)
c.       Searching for facts and formulating hypotheses (mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis)
d.      Evaluating proposed solution (mengevaluasi alternatif pemecahan yang dikembangkan)
e.        Experimental verification (mengadakan pengujian atau verifikasi secara eksperimental, uji coba)

C.    Kriteria Dan Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Siswa
Secara umum kriteria keberhasilan pembelajaran adalah:
1.         Keberhasilan peserta didik menyelesaikan serangkaian tes, baik tes formatif, tes sumatif, maupun tes ketrampilan;
2.          Setiap keberhasilan tersebut dihubungkan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang mengacu kepada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), atau Kriteria Ketuntasan Ideal (KKI) 75%.
3.         Ketercapaian keterampilan vokasional atau praktik bergantung pada KKM atau KKI. Sedangkan indikator adalah acuan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai kompetensi. Untuk mengumpulkan informasi apakah suatu indikator telah dicapai siswa, dilakukan penilaian sewaktu
pembelajaran berlangsung atau sesudahnya.
Pencapaian inidikator dapat dijaring dengan beberapa soal atau tugas. kriteria ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0% – 100%. Kriteria ideal untuk masingmasing indikator adalah 75% (KKI). Satuan pendidikan dapat menetukan kriteria ketuntasan minimal lebih kecil atau lebih besar dari KKI (75%) dengan mempertimbangkan kemampuan peserta didik dan guru serta ketersediaan
prasarana dan sarana[9]

Sementara itu, diantara faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa adaalah sebagai berikut:
1.      Tujuan
Tujuan adalah pedoman, sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mangajar. Kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar betitik tolak dari jelas tidaknya perumusan tujuan penalajaran. Tercapainya tujuan maka sama halnya dengan keberhasilan pengajaran.
Sedikit banyaknya perumusan tujuan akan mempengaruhi kegiatanan pengajaran yang dilakukan oleh guru, dan guru secara langsung mempengaruhi kegiatan belajar anak didik guru dengan sengaja menciptakan lingkungan belajar guna mencapai tujuan. Jika kegiatan belajar anak didik dan kegiatan mengajar guru bertentangan, dengan sendirinya tujuan pengajaran pun akan gagal dicapai. Dengan demiian tujuan merupakan salah satu factor yang mempengaruhi keberhasilan mengajar mengajar dalam setiap pertemuan dikelas.
2.      Guru
Guru merupakan tenaga pendidik yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik yang berpengalaman dalm bidang profesinya dan dengan keilmuan yang dimilikinya, dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas. Setiap guru mempunyai kepribadian masing-masing sesuai dengan latar belakang kehidupannya. Kepribadian guru diakui sebagi aspek yang tidak bisa dikesampingkan dari kerangka keberhasilan belajar mengajar untuk menagntarkan anak didik menjadi orang yang berilmu pengetahuan dan berkepribadian.
Jadi keberhasilan itu mempengaruhi pola kepemimpinan yang diperlihatkan ketika guru melaksanakan tugas mengajar dikelas. Latar belakang dan pengalaman belajar adalah dua aspek yang mempengaruhi kompetensi seorang guru dibidang pendidikan dan pengajaran. Guru dengan latar belakang pendidikan keguruan  lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah karena sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagi pendukung profesinya. Sekalipun ditemukan kesulitan hanya pada aspek-aspek tertentu maka itu merupakan hal yang wajar. Semetara guru yang bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan tidak berpengalaman mengajar, akan banyak menemukan masalah dikelas.
3.      Anak Didik
Setiap peserta didik mempunyai ciri masing-masing yang membuat mereka berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. karena perbedaan itulah yang membuat pandangan merekapun berbeda-beda. Bagi siswa yang menyenangi pelajaran tertentu dan kurang menyenagi pelajaran yang lain adal perilaku yang bermula dari sikap mereka karena minat yang berlainan. Hal ini mempengaruhi kegiatan belajar anak. Saat pelajaran yang kurang disenangi jarang dipelajari oleh peserta didik maka tidak heran bila isi dari pelajaran itu kurang dikuasai dan akibatnya hasil ulangan anak itu tidak mencapai taraf yang maksimal.  

4.      Kegiatan Pengajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah tejadinya interaksi anatara gauru dan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya. Dalam kegiatan belajar mengajar, pendekatan yang guru ambil akan menghasilkan kegiatan anak didik yang bermacam-macam, selain itu penggunaan metode mengajar amat menentukan kualitas hasil belajr mengajar. Dengan demikian kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru akan mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar.

5.      Bahan Dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi merupakan bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan.ketika akan mengadakan ulangan, semua bahan yang telah diprogramkan akan dijadikan sebagai bahan untuk memuat item-item soal evaluasi dengan menggunakan alat-alat evaluasi seperti: benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan serta berbentuk essay. Disamping itu, dalam pembuatan soal harus dimulai dari yang mudah menuju ke yang rumit. Semua hal diatas merupakan hal yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Tetapi validitas dan realitas data dari hasil evaluasi itulah yang mempengaruhi keberhasilan bekajar. Jika alat tesnya tidak valid maka tidak dapat dipercaya untuk mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar  mengajar.
6.      Suasana Evaluasi
Suasana evaluasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas. Semua anak didik di bagi menerut kelas masing-masing. Besar kecilnya jumlah anak didik yang dikumpulkan dalam kelas akan mempengaruhi suasana kelas segaligus mempengaruhi suasan evaluasi yang dilaksanakan. Selama pelaksanaan evaluasi guru harus mengamati setiap gerak gerik anak didik. Sikap yang merugikan pelaksanaan evaluasi dari seorang pengawas adalah membiarkan anak didik melakukan hubungan kerjasama di antara anak didik sehingga disadari atau tidak hal yang demikian akan merugikan anak didik untuk bersikap jujur. Selain itu dampak dikemudian hatinya adalah anak didik akan menjadi malas dalam belajar dan kurang mengamati penjelasan guru akibatnya akan berefek buruk terhadap tingkat keberhasilan belajar peserta didik tersebut.[10]



PENUTUP
1.      Kesimpulan
Aspek-aspek psikologis siswa dalam hubungannya dengan pengelolaan kelas yaitu:
a.       Aspek Motivasi
b.      Konsep diri
c.       Kreativitas
d.      Curiosity
e.       Anxiety
Sementara pola-pola belajar siswa itu terdiri dari beberapa aspek, yaitu;
1.      Signal learning
2.      Stimulus-Respon Learning
3.      Chainning dan verval association
4.      Discrimination Learning
5.      Consept Learning
6.      Rule Learning
7.      Problem Solving
Kemudian diantara yang criteria keberhasilan seorang siswa adalah:
a.       Keberhasilan peserta didik menyelesaikan serangkaian tes, baik tes formatif, tes sumatif, maupun tes ketrampilan;
b. Setiap keberhasilan tersebut dihubungkan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang mengacu kepada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), atau Kriteria Ketuntasan Ideal (KKI) 75%.
c. Ketercapaian keterampilan vokasional atau praktik bergantung pada KKM atau KKI.
Dan yang terakhir adalah mengenai factor-faktor keberhasilan seorang siswa diantaranya adalah:
a.       Tujuan
b.      Guru
c.       Anak didik
d.      Kegiatan pengajaran
e.       Bahan dan Alat evaluasi
f.       Suasana Evaluasi

2.      Saran
Dari pembahasan makalah diatas tentu masih terdapat kekilafan dan kekurangan nya untuk itu kami pihak pemkalah meminta saran dari para pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah di masa akan datang.



 silahkan tinggalkan pesannya ya sobat Blog














[1] Oemar Malkik. Psikologi Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Algesindo, 202) hal 173
[2] Sadirman. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: Raja wali Press) hal 87
[3] Desmita. Psikologi Peserta didik (Bandung: Remaja rosda Karya, 2009) hal 163
[4] Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati. Strategi Pengembangan Kreativitas pada Anak,(Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2010)  hal 13
[5] Utami unandar. Pengembangan kreativitas anak berbakat (Jakarta: Rineka Cipta, 2004) hal 23
[6] Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Remaja Rodsa karya, 2009) hal 104
[7] Silaho al- zainal. Krativitas siswa. (http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/) diakses tanggal 28 maret 2012 jam 17:45 WIB
[8] Akhmad sudrajat. Upaya Mencegah Kecemasan Siswa Disekolah. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/01/upaya-mencegah-kecemasan-siswa-di-sekolah/) diakses tanggal 28 Maret 2012
[10]  Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar(Jakarta: Asdi Mahasatya, 2006) hal 109-119