Entri Populer

Entri Populer

Entri Populer

Entri Populer

Selasa, 16 September 2014

UPAYA GURU PAI DALAM MENCIPTAKAN BUDAYA RELIGIUS SEKOLAH DI SMA 1 BATUSANGKAR



UPAYA GURU PAI DALAM MENCIPTAKAN BUDAYA RELIGIUS SEKOLAH
DI SMA 1 BATUSANGKAR

Oleh
Adi Satria Rahma1, Salmah2 dan Asnelly Ilyas1
Program Studi Pendidikan Agama Islam, Jurusan Tarbiyah STAIN Batusangkar. Korespondensi:  Jl. Sudirman No. 137 Kuburajo Lima Kaum Batusangkar 27213. Email:
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar, untuk mengetahui bagaimana strategi guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar serta untuk mengetahui apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat yang dihadapi oleh guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar.
Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan kualitatif. Dari penelitian yang telah dilakukan hasilnya menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan di SMA 1 Batusangkar sebagai bentuk budaya religius sekolah adalah budaya 3S, Saling Hormat dan Toleran, sholat Dhuha, sholat Dzuhur berjamaah, tadarrus al-Qur’an dan istighasah atau do’a bersama. Sedangkan strategi guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar ialah melalui penciptaan suasana religius, internalisasi nilai, keteladan, pembiasaan dan pembudayaan. Faktor pendukung terciptanya budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar ialah faktor internal (motivasi) yang berasal dari dalam diri siswa, dukungan dari para majelis guru SMA 1 Batusangkar, adanya program sekolah seperti FSI (Forum Studi Islam), adanya peran serta dari alumni dan masuknya beberapa aspek budaya religius kedalam aturan tata tertib siswa SMA 1 Batusangkar. Sedangkan yang menjadi faktor penghambatnya adalah keterbatasan sarana dan prasarana, sebagian siswa masih enggan untuk melaksanakan beberapa aspek budaya religius sekolah, Adanya beberapa aspek  budaya religius sekolah yang tidak bisa diwajibkan pada siswa untuk dilakukan serta Keterbatasan guru untuk mengontrol siswa sampai kerumahnya dan ditambah dengan masih belum maksimalnya kontrol orang tua terhadap ibadah anak.

Kata Kunci: Upaya, Guru PAI, Menciptakan, Budaya Religius sekolah


PENDAHULUAN

Mata pelajaran PAI merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang harus diajarkan pada siswa di sekolah termasuk di Sekolah Menengah Atas. Secara garis besar ada dua aspek tujuan yang terkandung dalam mata pelajaran PAI untuk Sekolah Menengah Atas ini yakni: Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Swt. dan Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.
Untuk mencapai tujuan di atas maka perlu dilakukan berbagai upaya dan tindak lanjut. Salah satunya ialah dengan menciptakan budaya religius sekolah di masing-masing sekolah. Sementara itu berdasarkan observasi yang penulis lakukan di SMA 1 Batusangkar, penulis melihat bahwa budaya 3S telah menjadi budaya sekolah di SMA 1 Batusangkar. Akan tetapi dalam penerapannya, budaya 3S ini belum berjalan dengan maksimal. Sebab dalam kesehariannya budaya 3S yang paling sering dipraktekkan oleh siswa ketika bertemu dengan guru baik di gerbang sekolah, di kantin, di Mushalla maupun di halaman sekolah ialah senyum, bersalaman dan belum diiringi dengan pengucapan salam (Assalamu’alaikum) kemudian menyapa. Sedangkan budaya 3S sudah terlaksana dengan baik saat akan memulai proses pembelajaran dan ketika jam terakhir/jam pulang siswa. Budaya 3S yang sering dipraktekkan ialah senyum mengucapkan salam kemudian bersalaman dan menyapa.
Namun, aspek lain yang membuat penulis juga tertarik untuk memilih  melakukan penelitian di SMA 1 Batusangkar ini dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain ialah karena keseriusannya dalam  meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah SWT, serta dalam membina akhlak siswa. Selain itu juga semangat guru pendidikan agama Islam yang dibantu oleh guru-guru lain dalam mengembangkan potensi siswa di bidang keagamaan. Ini terlihat dari banyaknya kegiatan-kegiatan keagamaan yang di adakan di sekolah. Misalnya seperti kegiatan tahfidz al-Qur’an, adanya grup nasyid dan Asmaul Husna, pelatihan musikalisasi dakwah serta adanya pembentukan Forum Studi Islam (FSI) yang telah berdiri sejak tahun 1997. Selain itu sebagai bentuk keseriusan sekolah ini dalam menciptakan budaya religius sekolah, SMA 1 Batusangkar juga mampu mengukir beberapa prestasi di bidang keagamaan. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui apa saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar, untuk mengetahui bagaimana strategi guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar serta untuk mengetahui apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat yang dihadapi oleh guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar.


METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan kualitatif. Sedangkan informan utama (sumber data primer) dalam penelitian ini adalah guru PAI SMA 1 Batusangkar yang berjumlah empat orang. sedangkan sumber data sekundernya adalah kepala sekolah, wakil kesiswaan,   guru pendidikan al-Qur’an yang juga sekaligus sebagai guru bahasa Arab serta beberapa orang siswa SMA 1 Batusangkar.
Sedangkan teknik dan alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah observasi melalui pedoman observasi, wawancara dengan menggunakan kisi-kisi wancara serta dokumen berupa aturan tata tertib siswa SMA 1 Batusangkar sekaligus juga berupa beberapa foto yang berkaitan dengan penerapan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar. Sementara itu teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik analisis data menurut Miles dan Huberman yakni mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.




HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      Kegiatan-Kegiatan Yang Dilakukan di SMA 1 Batusangkar Sebagai Bentuk Budaya Religius Sekolah di SMA 1 Batusangkar.
a.      Budaya Senyum Salam dan Sapa (3S)
Dari hasil wawancara dan observasi yang telah penulis lakukan, dapat diperoleh keterangan bahwasanya budaya 3S ini telah menjadi budaya di SMA 1 Batusangkar. Meskipun hal itu belum seluruhnya berjalan maksimal. Budaya 3S terlaksana dengan baik saat akan memulai proses pembelajaran dan ketika jam terakhir/jam pulang siswa. Kegiatan ini dilakukan secara rutin dan teratur sehingga hasilnya dapat sesuai dengan apa yang diharapkan. Sedangkan dalam kesehariannya budaya 3S ini juga telah berjalan baik namun pelaksanaannya masih belum maksimal. Karena yang paling sering dipraktekkan siswa pada umumnya adalah Senyum, bersalaman kemudian menyapa.
Dalam Islam sangat dianjurkan memberikan sapaan pada orang lain dengan mengucapkan salam. Ucapan salam di samping sebagai do’a bagi orang lain juga sebagai bentuk persaudaraan antar sesama manusia. Secara sosiologis sapaan dan salam dapat meningkatkan interaksi antar sesama dan berdampak pada rasa penghormatan sehingga antara sesama saling menghormati dan saling menghargai.[1]
Akan tetapi dari penelitian yang dilakukan di SMA 1 Batusangkar, budaya Senyum Salam dan Sapa (3S) memang telah dipraktekkan dengan baik. Akan tetapi salam yang paling umum dipraktekkan oleh warga SMA 1 Batusangkar ialah bersalaman Bukan mengucapkan salam (Assalamu’alaikum). Budaya mengucapkan salam seperti yang telah dijelaskan sebelumnya baru terlaksana dengan maksimal dan berjalan dengan baik saat akan memulai proses pembelajaran dan ketika jam terakhir/jam pulang siswa. Oleh sebab itu, menurut penulis ada baiknya budaya salam yang dipraktekkan dalam keseharian di SMA 1 Batusangkar  itu ialah budaya salam yang memang mengucapkan salam sekaligus diikuti dengan bersalaman. Karena mengucapkan salam kepada muslim lainnya itulah yang menjadi anjuran dalam ajaran Islam. Sebab didalamnya mengandung do’a yang baik untuk seseorang yang disalami.

b.      Saling Hormat dan Toleran
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah penulis lakukan, diperoleh keterangan bahwa budaya saling hormat dan toleran telah menjadi budaya di SMA 1 Batusangkar. Hal ini dapat dilihat dari tingkah laku keseharian yang ditampilkan siswa SMA 1 Batusangkar. Pada umumnya mereka telah membudayakannya baik terhadap sesama siswa, antara siswa yang lebih muda dengan yang tua/senior dan sebalikanya, dengan kepala sekolah beserta majelis guru, tenaga kepandidikan maupun dengan tamu yang datang ke SMA 1 Batusangkar. Siswa diajak agar saling menghormati antar sesama dengan tidak membedakan status ataupun agama. Tidak diperbolehkan untuk saling merendahkan ataupun melakukan permusuhan dengan teman yang lain. Sedangkan bentuk toleransi yang diperlakukan kepada siswa non muslim ketika materi PAI berlangsung ialah mereka diberikan pilihan apakah tetap memilih berada dalam kelas atau memilih untuk keluar kelas. Selain itu Mereka juga dibolehkan untuk mengerjakan aktivitas lain selama belajar PAI dan juga boleh mendengarkan dengan seksama materi PAI jika mereka juga ingin mendengarkan.
Sementara itu, berdasarkan teori yang penulis kemukan sebelumnya bahwa Masyarakat yang toleran dan memiliki rasa hormat menjadi harapan bersama. Dalam perspektif apapun toleransi dan rasa hormat sangat dianjurkan termasuk di lingkungan sekolah. Saling menghormati antara yang muda dengan yang tua, menghormati  perbedaan pemahaman agama bahkan saling menghormati antar agama yang berbeda.[2]
Dengan demikian, budaya saling hormat dan toleran yang yang telah dilakukan oleh warga SMA 1 Batusangkar ini tidaklah bersimpangan dengan teori yang telah dikemukakan di atas. Dimana siswa senantiasa diajak dan diarahkan untuk saling menghormati antara guru dengan siswa, siswa yang junior dengan siswa senior. serta antara siswa dengan para tamu yang datang ke SMA 1 Batusangkar.
c.       Puasa Senin dan Kamis
Dari penelitian yang telah penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa puasa Senin dan Kamis belum lagi menjadi budaya di SMA 1 Batusangkar. Amalan ini masih dalam tahap pengajakan. Akan tetapi meskipun amalan ini merupakan amalan sunnah yang sifatnya anjuran bagi siswa. Namun guru PAI telah memberikan contoh teladan kepada siswanya yakni dengan rutin melaksanakan puasa Senin dan Kamis. Sehingga dengan adanya contoh teladan itu diharapkan siswa mau mengikuti perbuatan baik dari gurunya.
Selain itu, guru PAI juga telah menyampaikan pada siswa terkait dengan ketentuan serta keutamaan-keutamaan tentang puasa-puasa sunat termasuk puasa Senin Kamis. Baik ketika berada di dalam kelas maupun seperti ketika acara forum ar-Rijal dan an-Nisa’ dilaksanakan. Hal tersebut bisa memotivasi siswa untuk mau melaksanakan ibadah puasa Senin Kamis. Namun berdasarkan pengakuan siswa SMA 1 Batusangkar dapat diketahui bahwa banyak diantara mereka yang masih merasa berat untuk mengerjakan amalan tersebut. Meskipum telah diberikan contoh teladan dan telah disampaikan hikmah serta motivasi-motivasi oleh guru PAI.
Sementara itu, menurut Asmaun Sahlan puasa merupakan bentuk peribadatan yang memiliki nilai yang tinggi terutama dalam pemupukan sprituslitas dan jiwa sosial. Puasa hari Senin dan Kamis ditekankan di sekolah di samping sebagai bentuk peribadatan sunnah muakkad yang sering ditekankan Rasulullah SAW juga sebagai sarana pendidikan dan pembelajaran tazkiyah agar siswa dan warga sekolah memiliki jiwa yang bersih, berpikir dan bersikap positif, semangat dan jujur dalam belajar dan bekerja serta memiliki rasa kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai yang ditumbuhkan melalui proses pembiasaan berpuasa tersebut merupakan nilai-nilai luhur yang sulit dicapai oleh siswa-siswi di era sekarang ini. Oleh sebab itu melalui pembiasaan puasa Senin Kamis diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai luhur tersebut yang sangat dibutuhkan oleh generasi saat ini.[3]
Jika penulis cermati, guru PAI telah melakukan beberapa upaya demi terbudayanya puasa Senin dan Kamis oleh siswa SMA 1 Batusangkar. Misalnya dengan cara mempraktekkan langsung atau memberikan contoh teladan kepada siswa, menyampaikan hikmah atau fadhilah puasa-puasa sunat serta juga dengan upaya pemberian motivasi kepada siswa agar siswa tergerak untuk melaksanakan puasa Senin dan Kamis. Namun belum banyak siswa yang sudah membiasakan diri untuk mengerjakan puasa Senin dan Kamis. Oleh sebab itu, puasa Senin dan Kamis belum lagi menjadi budaya di SMA 1 Batusangkar. akan tetapi guru PAI tetap berupaya agar siswa mau dan membiasakan diri untuk melaksanakan puasa Senin dan Kamis.

d.      Sholat Dhuha
Sholat Dhuha termasuk salah satu sholat sunnah. Waktu mengerjakannya adalah sejak matahari terangkat satu tombak sampai tenggelam matahari. Akan tetapi yang paling afdhal dilakukan adalah seperempat siang. Mengenai keutamaan sholat dhuha ini, Abu Dzarr ra. Ia berkata bahwa rasulullah bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُالله بن مُحَمَّدِ بنُ اَسْمَاءَ الضَبَعِيْ حَدَّثَنَا مَهْدِي حَدَّثَنَا وَاصِلٌ عَنْ يَحْيَ بنُ عَقَيْلِ عَنْ يَحْيَ بنُ يَعْمَرَ عَنْ اَبِى الأَسْوَالدِؤَلىِ عَنْ اَبِى ذَرَّ عن النَبِي اَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ اَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ, فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلٌّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِيْ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضَّحَى[4]
Telah menceritakan Abdullah Ibnu Muhamad  bin Asma’ ad-Dhoba’i, telah menceritakan mahdi, telah mencerit dari Abi akan Wasil dari Yahya ibnu Ya’mar dari Aswad ad-Dawali Zarr dari nabi SAW bahwasanya beliau bersabda: hendaklah kalian bersedekah untuk setiap ruas tulang tubuh pada setiap pagi. Setiap bacaan tasbih adalah sedekah, tauhid adalah sedekah, tahmid adalah sedekah, tahlil adalah sedekah, takbir adaah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal adalah sedekah. Semua itu dilakukan dengan dua rakaat sholat dhuha (HR. Muslim).[5]

Berdasarkan keterangan dari hadits di atas dapat dipahami bahwa betapa banyak nilai kebaikan yang diperoleh bagi seseorang yang rajin melaksanakan sholat Dhuha. Orang yang rajin melaksanakan sholat Dhuha akan membuat keimanan dan ketaqwaannya semakin meningkat. Selain itu ia juga akan disayangi dan dianugrahkan rezki oleh Allah karena ia senantiasa meminta hanya kepada Allah. Disamping itu, hati dan pikirannya juga akan menjadi bersih sehingga terhindar dari hal-hal yang membuat ia terjerumus untuk melakukan dosa.
Sementara itu, dari penelitian yang telah penulis lakukan di SMA 1 Batusangkar, diperoleh keterangan bahwa sholat Dhuha memang telah menjadi budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar. Sholat Dhuha dilaksanakan di mushalla sekolah. Namun  dalam pelaksanaannya tidak ada waktu khusus yang disediakan. Siswa maupun guru melaksanakan sholat Dhuha sesuai dengan keinginan sendiri. Sebagian ada yang melakukan ketika baru sampai di sekolah, ada yang melakukan saat pergantian antara jam ke tiga dengan jam ke empat dan sebagian lain melaksankan sholat Dhuha ketika jam istirahat.
Dengan demikian, menurut penulis siswa SMA 1 Batusangkar melaksanakan sholat Dhuha bukan lagi lantaran karena semata-mata disuruh guru atau karena hanya ikut-ikutan. Akan tetapi melihat dari pernyataan yang telah disampaikan di atas, bahwa mereka melaksanakan sholat Dhuha karena atas kemauan diri sendiri, bukan karena keterpaksaan. Sehingga jika dikaitkan dengan hadits di atas siswa yang melaksanakan sholat Dhuha karena keinginan dan kesadaran diri sendiri seyogyanya mereka telah bersedekah untuk diri sendiri serta telah melaksanakan suatu amalan yang disunnahkan nabi Muhammad SAW. Disamping itu, mereka juga bisa memperoleh manfaat dari melaksanakan sholat Dhuha seperti adanya ketenangan batin yang dirasakan seteleh melaksanakan sholat Dhuha.
e.       Sholat Dzuhur Berjamaah
Dalam Islam sholat menempati kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadah lain. Selain termasuk dalam rukun Islam sholat juga termasuk ibadah yang pertama yang diwajibkan Allah pada nabi Muhammad SAW ketika terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj. Sementara itu sholat Dzuhur merupakan salah satu dari sholat wajib. Ulama sepakat bahwa permulaan waktu zuhur yakni ketika matahari tergelincir (al-zawal). Namun mengenai masalah akhir waktu zuhur, Abu Hanifah berpendapat bahwa akhir waktu zuhur yaitu ketika panjang bayangan sama dengan suatu benda.[6]
Akan tetapi sebaik-baik sholat ialah sholat yang dikerjakan secara berjamaah. Sebab sholat yang dilakukan secara berjamaah lebih utama dan memiliki nilai pahala yang tinggi dibandingkan dengan sholat yang dikerjakan secara sendiri-sendiri. Rasulullah SAW bersabda:
حَدثَنَا عَبْدُالله ابْنُ يُوْسُفَ قَالَ اَخْبَرْنَا مَلِكْ عَنْ نَفِع  عَنْ عَبْدِا الله بْنُ عُمَرَ اَنَّ رسُول الله صَلَى الله عَلَيْهِ وسلم قَالَ صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِ يْنَ دَرَجَةً {رواه البخاري}[7]
Telah menceritakan Abdullah ibnu Yusuf ia berkata telah menceritakan Malik dari Nafi’ dari abdullah ibnu Umar bahwasanya rasulullah SAW bersabda: sholat berjamaah itu lebih utama dari pada sholat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat. (HR. Bukhari)[8]
Berdasarkan wawancara dan observasi yang telah penulis lakukan di SMA 1 Batusangkar, penulis memperoleh keterangan bahwa sholat Dzuhur berjamaah telah menjadi budaya sekolah di SMA 1 Batusangkar. Sholat Dzuhur berjamaah dilaksanakan ketika jam istirahat kedua berlangsung yakni dalam rentang waktu 12:20-12:45 WIB atau disesuaikan pelaksanaannya dengan saat masuknya waktu sholat Dzuhur.
Dengan demikian, menurut penulis budaya sholat Dzuhur berjamaah yang ada di SMA 1 Batusangkar telah sesuai dengan teori maupun hadits yang penulis kemukakan sebelumnya. Dimana pelaksanaan sholat Dzuhur dilakukan secara berjamaah serta dilaksanakan ketika jam istrirahat kedua atau menyesuaikan dengan masuknya waktu Dzuhur. Hal ini juga diperkuat dengan adanya peraturan tata tertib siswa SMA 1 Batusangkar. Sebagaimana yang terdapat pada bagian peraturan umum nomor 11 yakni setiap siswa (Islam) harus melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah dan sholat Jum’at sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.[9] Hal ini juga membuktikan bahwa SMA 1 Batusangkar memiliki komitmen yang tinggi terhadap ibadah warga sekolahnya. Oleh sebab itu, sebagai sebuah peraturan maka seluruh siswa SMA 1 Batusangkar harus tunduk dan patuh terhadap aturan yang telah disepakati bersama. Termasuk dalam hal pelaksanaan sholat Dzuhur yang harus dilakukan secara berjamaah.

f.       Tadarrus al-Qur’an
Tadarrus al-Qur’an atau kegiatan membaca al-Qur’an merupakan bentuk peribadatan yang diyakini dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan yang berimplikasi pada sikap dan perilaku positif, dapat mengontrol diri, dapat tenang, lisan terjaga dan istiqamah dalam beribadah. Oleh sebab itu melalui tadarrus al-Qur’an dapat tumbuh sikap-sikap luhur pada diri peserta didik. Sehingga dapat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar dan juga dapat membentengi diri dari budaya negatif.[10]
Dalam membaca al-Qur’an, ada beberapa adab yang harus diperhatikan ketika membaca dan mendengarkan ayat suci al-Qur’an. Di antaranya ialah:
1)      Disunatkan berwudhuk bagi yang ingin membaca ayat al-Qur’an.
2)      Khusyuk dan menghayati kandungan ayat al-Qur’an yang dibaca.[11]
3)      Membacanya dengan indah dan tidak tergesa-gesa.
4)      Dimulai dengan isti’adzah
5)      Membaca al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang sholat. Selain itu tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras.
6)      Dianjurkan untuk bersiwak[12]
Sedangkan dari wawancara dan observasi yang telah penulis lakukan sebelumnya penulis memperoleh keterangan bahwa tadarrus al-qur’an telah menjadi budaya di SMA 1 Batusangkar. Budaya tadarrus al-qur’an ini dilakukan setelah siswa selesai membaca Asmaul Husna dan do’a bersama yakni membaca do’a sebelum belajar. Siswa membaca ayat al-Qur’an secara tartil dan bersama-sama. Sedangkan bagi siswa perempuan yang sedang berhalangan maka ia diwajibkan untuk mendengarkan temannya membaca al-Qur’an. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan menjelaskan kandungan dari beberapa ayat yang dibaca siswa.
Jika dibandingkan antara teori dengan hasil wawancara dan observasi yang telah penulis kemukakan diatas maka budaya tadarrus al-Qur’an yang ada di SMA1 Batusangkar tela berjalan dengan baik mesikpun belum sepenuhnya sesuai dengan teori yang ada. Dimana sebelum memulai membaca al-Qur’an guru tidak mencheck dan menyarankan pada siswa untuk berwudhuk terlebih dahulu. Walaupun berwudhuk termasuk hal yang disunnahkan sebelum membaca ayat suci al-Qur’an. Namun ketika mebaca ayat al-Qur’an siswa  membaca dengan serius tidak ada yang becanda atau melakukan aktivitas lain. Disamping itu, siswa membaca ayat al-Quran secara bersama-sama serta dilakukan dengan tartil. Disamping itu tadarrus al-Qur’an ini juga dilakukan siswa dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Oleh sebab itu, menurut penulis sabaiknya guru PAI menyarankan kepada siswa agar berwudhuk terlebih dahulu sebelum kegiatan berdo’a dan tadarrus al-Qur’an dimulai.
g.      Istighazah (Do’a Bersama)
Istighazah berarti memohon bantuan dan pertolongan.[13] Istighasah adalah do’a bersama yang bertujuan memohon pertolongan dari Allah SWT kareba keadaan genting darurat. Inti dari kegiatan ini  sebenarnya dzikrullah kepada Allah. Jika manusia sebagai hamba selalu dekat dengan sang khaliq, maka segala keinginannya akan dikabulkanNya.[14]
Sementara itu, bersdasarkan wawancara dan observasi yang telah penulis lakukan di SMA 1 Batusangkar dapat disimpulkan bahwa do’a bersama telah menjadi budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat siswa kelas XII akan mengahadapi UN, pada saat hari terakhir MOS serta juga dilaksanakan pada saat upacara bendera dan sebelum belajar. Do’a ini di pimpin oleh guru PAI SMA 1 Batusangkar serta juga oleh siswa khususnya pada saat upacara bendera. Sedangkan bagi siswa yang non muslim diberikan kebebasan untuk berdo’a menurut keyakinan agama mereka sendiri.
Dengan demikian menurut analisa penulis budaya istighazah atau do’a bersama yang ada di  SMA 1 Batusangkar telah sesuai dengan teori yang penulis kemukan di atas. Dimana do’a bersama ini dilakukan dengan tujuan untuk memohon kepada Allah agar siswa SMA 1 memperoleh kemudahan dan kesuksesan dalam menghadapi Ujian Nasional, diberikan kenyaman terhadap siswa yang baru masuk serta diberikan hidayah dan kecerdasan bagi setiap siswanya dalam menuntut ilmu pengetahuan di SMA 1 Batusangkar. Sebab do’a bersama secara rutin dilaksanakan ketika siswa kelas XII akan menghadapi UN, pada saat hari terakhir MOS, serta juga dilakukan ketika upacara bendera dan sebelum memulai proses pembelajaran.
2.      Strategi Guru pai dalam Menciptakan Budaya Religius Sekolah di SMA 1 Batusangkar
a.      Penciptaan Suasana Religius Sekolah
Upaya penciptaan suasana religius sekolah ini merupakan suatu skenario perwujudan budaya religius di sekolah. Penciptaan suasana religius ini mencakup beberapa hal yakni:
1)      Berdo’a bersama sebelum belajar.
2)      Khatm al-Qur’an
3)      Sholat jum’at
4)      Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
5)      Kegiatan pondok ramadhan.[15]
Sementara itu, berdasarkan wawancara dan observasi yang telah penulis lakukan di SMA 1 Batusangkar dapat diperoleh keterangan bahwa guru PAI telah melakukan upaya untuk menciptakan suasana religius sebagai salah satu strategi untuk menciptakan budaya religius sekolah di SMA1 Batusangkar. Hal ini dibuktikan dengan adanya kegiatan berdo’a sebelum belajar, Sholat Jum’at di sekolah, kegiatan PHBI, kegiatan TURBA Ramadhan serta adanya dibentuk Forum Studi Islam sebagai wadah penambah wawasan keagamaan dan peningkatan semangat ibadah siswa SMA 1 Batusangkar.
Oleh sebab itu, menurut penulis hal ini telah sesuai dengan teori yang ada sebagaimana yang telah penulis paparkan di atas. hanya saja untuk kegiatan khatm al-Qur’an memang tidak ada di SMA 1 Batusangkar. Tetapi yang ada adalah budaya tadarrus al-Qur’an yang dilaksanakan setiap pagi sebelum memulai proses pembelajaran. Selain itu ada satu bentuk kegiatan yang tidak dikemukakan di dalam teori yang penulis kemukakan di atas yakni SMA 1 Batusangkar juga membentuk FSI (Forum Studi Islam) yang terbagi menjadi 2 forum yakni forum ar-Rijal dan an-Nisa’. Dalam forum itulah siswa juga diberikan pembekalan tentang ilmu keagamaan sehingga diharapkan mampu meningkatkan semangat ibadah para siswa.

b.      Internalisasi Nilai
Internalisasi nilai dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang agama pada siswa, terutama tentang tanggung jawab manusia sebagai pemimpin yang harus arif dan bijaksana. Disamping itu mereka juga diharapkan mereka memiliki pemahaman yang inklusif tidak ekstrim. Selanjutnya senantiasa diberikan nasehat kepada para siswa tentang adab bertutur kata yang sopan dan bertata krama, baik tehadap guru, orang tua maupun sesama orang lain. Selain itu proses internalisasi tidak hanya dilakukan oleh guru agama saja tetapi juga semua guru yang ada. Dimana mereka menginternalisasikan ajaran agama dengan keilmuan yang mereka miliki. Pesan-pesan moral yang disampaikan oleh guru umum kadangkala juga lebih mengena kepada hati siswa, sehingga akan lebih mudah masuk dalam pikiran dan tindakan siswa karena senantiasa diingatkan dengan nilai-nilai ajaran agama.[16]
Sementara itu, berdasarkan wawancara dan observasi yang telah penulis lakukan dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa strategi yang dilakukan guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah ialah dengan melakukan internalisasi nilai-nilai ajaran agama Islam kepada siswa. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan nasehat kepada para siswa tentang tata cara bertatakrama yang baik, seperti cara menegur dan mengormati guru, karyawan sekolah maupun sesama siswa. Hal tersebut diaplikasikan dengan cara siswa diajak dan disuruh untuk  membudayakan budaya 3S.
Menurut analisa penulis guru PAI telah melakukan internalisasi nilai sebagai salah satu bentuk strategi dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar. Hal ini sesaui dengan teori yang dipaparkan di atas. Misalnya guru PAI melakukan internanlisasi nilai dengan cara memberikan nasehat kepada para siswa tentang tata cara bertatakrama yang baik, membekali keimanan siswa melalui penyampaian materi pembelajaran. Serta memberikan pemahaman kepada siswa terhadap nilai-nilai keagamaan Terutama dalam hal ibadah.

c.       Keteladanan
Dalam mewujudkan budaya religius sekolah menurut Muhaimin sebagaimana yang dikutip oleh Asmaun Sahlan menjelaskan bahwa  dapat diwujudkan melalui pendekatan keteladanan dan pendekatan persuasif atau mengajak kepada warga sekolah dengan cara yang halus dengan memberikan alasan dan prospek yang baik yang bisa meyakinkan mereka. Sikap kegiatannya bisa berupa membuat aksi atas inisiatif sendiri.[17]
Sementara itu, dari penelitian yang telah penulis lakukan dapat diketahui bahwa guru PAI telah memberikan keteladanan pada siswanya dalam hal budaya senyum salam dan sapa, saling hormat dan toleran, puasa Senin dan Kamis serta sholat Dhuha. Guru PAI melakukan budaya senyum salam dan sapa ketika bertemu dengan kepala sekolah. Salam yang dilakukan adalah bersalaman sekaligus mengucapkan salam. Sementara ketika bertemu dengan sesama guru, guru PAI juga melakukan budaya senyum salam dan sapa. Namun salam yang paling sering dipraktekkan ialah bersalaman.
Sedangkan untuk budaya saling hormat dan toleran penulis melihat bahwa guru PAI juga memberikan contoh teladan dalam hal ini. Yakni dengan menghormati guru yang lebih tua serta menghargai yang lebih muda termasuk dengan mahasiswa yang sedang Praktek Lapangan di SMA 1 Batusangkar. Disamping itu, guru juga memberikan toleransi terhadap siswa non muslim saat akan melakukan proses pembelajaran. Siswa tersebut diberikan pilihan apakah akan tetap berada dalam kelas atau memilih untuk berada diluar kelas saat pelajaran pendidikan agama Islam berlangsung. Selain itu, penulis juga melihat guru-guru PAI melaksanakan sholat Dhuha di sekolah yakni ketika baru tiba di sekolah.[18]
Dengan demikian menurut analisa penulis, bentuk keteladanan yang telah dipraktekkan guru PAI SMA 1 Batusangkar telah sesuai dengan dengan teori yang ada. Guru PAI tidak sebatas menyuruh ataupun memberikan saran kepada siswa untuk membudayakan beberapa aspek budaya religius. Akan  tetapi guru PAI juga langsung berinisiatif untuk memulainya terlebih dahulu. Sehingga apa yang disampaikan oleh guru bisa langsung dilihat prakteknya oleh siswa itu sendiri.

d.      Pembiasaan
Inti dari sebuah pembiasaan adalah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas mengucapkan salam, itu telah dapat diartikan sebagai usaha untuk membiasakan. Sehingga jika siswa masuk kelas tanpa mengucapkan salam maka guru mengingatkan agar masuk ruangan hendaklah mengucapkan salam. Oleh sebab itu, ini  juga salah satu cara dalam membiasakan siswa. Sehingga dalam pembinaan sikap, metode pembiasaan sebenarnya cukup efektif. Dan metode pembiasaan itu juga berjalan bersama-sama dengan metode keteladanan, sebab pembiasaan itu dicontohkan oleh guru.[19]
Sedangkan dari wawancara dan observasi yang telah penulis lakukan dapat diperoleh keterangan bahwa dalam menciptakan budaya religius sekolah guru PAI juga menggunakan strategi pembiasaan. Ada beberapa aspek budaya religius sekolah yang diciptakan melalui strategi pembiasaan, yakni sholat Dzuhur berjamaah, tadarrus al-Qur’an serta do’a bersama. Sholat Dzuhur berjamaah dilaksanakan pada saat jam istirahat kedua atau dalam rentang waktu 12:20-12:45 WIB. Sholat Dzuhur berjamaah ini dilaksanakan di mushalla sekolah. Sedangkan tadarrus al-Qur’an dibiasakan sebelum akan memulai pelajaran. Hal ini dilakukan setelah siswa selesai membaca Asmaul Husna dan Do’a sebelum belajar. Sedangkan do’a bersama dilaksanakan dalam beberapa waktu yang berbeda yakni dilakukan saat hari terakhir Masa Orientasi Siswa (MOS), ketika siswa kelas XII akan menghadapi ujian nasional dan saat upacara bendera serta ketika sebelum belajar.
Dengan demikian menurut analisa penulis, hal ini telah sesuai dengan teori yang telah di paparkan di atas. Dimana guru telah melakukan upaya pembiasaan demi terciptanya budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar. Contoh aspek budaya religius sekolah yang berhasil diterapkan yang melalui strategi pembiasaan ini adalah sholat Dzuhur berjamaah, tadarrus al-Qur’an serta do’a bersama.
e.       Pembudayaan
Pembudayaan merupakan proses atau cara membudayakan sesuatu. Dengan demikian pembudayaan merupakan tahap terakhir agar nilai-nilai yang telah diajarkan dan dipelajari bisa menjadi budaya bagi warga sekolah tersebut. Sehingga segala bentuk sikap, cara berfikir dan bertindak telah didasari dengan kebiasaan yang berdasarkan pada nuansa keagamaan (religius).[20]
Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan dapat diperoleh keterangan bahwa melalui strategi pembudayaan yang diterapkan oleh guru PAI untuk menciptakan budaya religius sekolah maka ada beberapa aspek budaya religius yang telah menjadi budaya di SMA 1 Batusangkar. Aspek budaya religius tersebut ialah Budaya Senyum Salam dan Sapa (3S), saling hormat dan toleran, sholat Dhuha, Tadarrus al-Qur’an, Sholat Dzuhur berjamaah dan do’a bersama. Sedangkan puasa Senin dan Kamis masih dalam tahap sosialisasi atau pengajakan.
Dengan demikian, ini membuktikan bahwa proses pembudayaan yang telah dilakukan oleh guru PAI telah memberikan dampak positif. Sehingga upaya guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah  telah membuahkan hasil yang baik meskipun masih belum maksimal. Sebab dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa aspek budaya puasa Senin dan Kamis masih belum menjadi budaya di SMA 1 Batusangkar. Puasa Senin dan Kamis masih belum banyak dilakukan oleh siswa. Oleh karena itu aspek puasa Senin dan Kamis masih berada dalam tahap sosialisasi atau pengajakan kepada siswa.
3.      Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat yang di Hadapi Guru PAI Dalam Menciptakan Budaya Religius Sekolah di SMA 1 Batusangkar.
a.      Faktor Pendukung
Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor pendukung upaya guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah. Faktor tersebut ialah
1)      Faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa, yakni adanya dorongan dalam diri siswa untuk mengamalkan aspek-aspek budaya religius
2)      Adanya dukungan dari guru-guru lain yang non PAI di SMA 1 Batusangkar.
3)      Adanya program sekolah seperti FSI (Forum Studi Islam).
4)      Adanya peran serta dari alumni yang datang dalam kegiatan keagamaan.
5)      Masuknya beberapa aspek budaya religius kedalam aturan tata tertib siswa SMA 1 Batusangkar.
b.        Faktor Penghambat
Dari penelitian yang telah penulis lakukan maka ada beberapa hal yang menjadi faktor penghambat guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah, yakninya ialah
1)      Keterbatasan sarana dan prasarana yang menunjang terwujudnya budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar
2)      Sebagian siswa masih enggan untuk melaksanakan beberapa aspek budaya religius sekolah.
3)      Adanya beberapa aspek budaya religius sekolah yang tidak bisa diwajibkan pada siswa untuk dilakukan.
4)      Keterbatasan guru untuk mengontrol siswa sampai kerumahnya serta masih belum maksimalnya kontrol orang tua terhadap ibadah anak.
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari penelitian yang telah penulis lakukan tentang upaya guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di SMA 1 Batusangkar sebagai bentuk  budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar ialah budaya 3S (Senyum, Salam dan Sapa), saling hormat dan toleran, sholat Dhuha, sholat Dzuhur berjamaah, tadarrus al-Qur’an dan istighasah atau do’a bersama. Sementara itu, puasa Senin dan Kamis belum lagi menjadi budaya sekolah. Akan tetapi masih dalam tahap sosialisasi dan pengajakan agar siswa membudayakan puasa Senin dan Kamis.
2.      Strategi guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar ialah: penciptaan suasana religious, internalisasi nilai, keteladanan, pembiasaan dan pembudayaan.
3.      Faktor pendukung dan faktor penghambat yang dihadapi oleh guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar.
a.       Faktor pendukung upaya guru PAI dalam menciptkan budaya religius sekolah ialah:
1)      Faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa, yakni adanya dorongan dalam diri siswa untuk mengamalkan aspek-aspek budaya religius
2)      Adanya dukungan dari guru-guru lain yang non PAI di SMA 1 Batusangkar.
3)      Adanya program sekolah seperti FSI (Forum Studi Islam).
4)      Adanya peran serta dari alumni yang datang dalam kegiatan keagamaan.
5)      Masuknya beberapa aspek budaya religius kedalam aturan tata tertib siswa SMA 1 Batusangkar.
b.      Faktor penghambat upaya guru PAI dalam menciptkan budaya religius sekolah ialah:
1)      Keterbatasan sarana dan prasarana yang menunjang terwujudnya budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar.
2)      Ada sebagian siswa masih enggan untuk melaksanakan beberapa aspek budaya religius sekolah
3)      Adanya aspek budaya religius sekolah yang tidak bisa diwajibkan pada siswa untuk dilakukan seperti puasa Senin dan Kamis
4)      Keterbatasan guru untuk mengontrol siswa sampai kerumahnya serta masih belum maksimalnya kontrol orang tua terhadap ibadah anak.
Sementara itu, sebagai sumbangan pemikiran bagi penulis tentang upaya guru PAI dalam menciptakan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar, maka peulis memberikan beberapa saran-saran yang barangkali dapat dipertimbangkan, agar penciptaan budaya religius sekolah di SMA 1 Batusangkar maupun di sekolah-sekolah lainnya juga bisa terwujud dan berjalan maksimal yakni:
1.      Melakukan proses renovasi rumah ibadah yaitu mushalla sekolah agar siswa lebih leluasa menjalankan ibadahnya.
2.      Agar kegiatan ibadah berjalan lancar maka hendaknya tempat berwudhuk disesuaikan dengan jumlah warga sekolah yang ada.
3.      Agar siswa lebih termotivasi lagi dalam melakukan aspek-aspek budaya religius sekolah maka pihak sekolah hendaknya membuat gebrakan-gebrakan positif. Misalnya dengan kegiatan pemilihan siswa teladan setiap akhir tahun.
4.      Hendaknya lingkungan sekolah juga dipampangkan motto-motto, slogan, kata-kata bijak, kaligrafi dan sejenisnya yang berhubungan dengan icon budaya religius sekolah.
5.      Hendaknya seluruh siswa diwajibkan mengisi buku agenda sholat agar kegiatan ibadah siswa bisa terkontrol dengan baik.
6.      Memanfaatkan arus teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang. Misalnya melalui program SMS Tahajud dan Sahur bersama.


[1] Asmaun Sahlan,  Mewujudkan.... h. 117-118
[2] Asmaun Sahlan,  Mewujudkan.... h118
[3]  Asmaun Sahlan,  Mewujudkan .... h.119
[4] Abu Husyn Muslim ibnu Muslim ibn al-Hajaj ibnu Muslim al-Qusyayri a-Nasyaburi, al-jami’ al-shahih. (Selanjutnya disebut shahih Muslim,  Kitab Sholat  no hadits 84 h. 326
[5] Sayyid Sabiq, Fikih.... h.359
[6] Supiana, Materi Pendidikan Agama Islam (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003) h. 27
[7] Abu ‘Abd Allah Muhammad ibnu Ismail ibnu Ibrahim ibnu al-Mughirat ibn Bardzibat al- Bukhari al-Jufi, Al-Jami’ al- Shahih(Shahih al-Bukhari), diberi catatan pinggir(hasyiyah) oleh al-Sindi.(Beirut: Darl Al-fiqr,t.th.). Kitab azan hal 168
[8] Samsul Munir Amin & Haryanto Alfandi, Etika Beribadah Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah (Jakarta: Amzah, 2011) h. 27
[9] Tata Tertib Siswa SMA 1 Batusangkar, Peraturan Umum no 11,  lampiran
[10] Asmaun Sahlan, Mewujudkan.... h.120-121
[11]Faruq Zaini, Be A Living Qur’an, Petunjuk Praktis Penerapan Ayat-Ayat Al-Quran Dalam Kehidupan Sehari-Hari (Jakarta; Lentera Hati, 2009) h. 123-125
[12]Arif Hidayat, Cara Kilat Pandai Membaca al-Qur’an (Jakarta: Buku Kita, 2011)  h. 14-18
[13] Juhaya S. Praja, Tafsir Hikmah Seputar Ibadah, Muamalah, Jin dan Manusia (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000) h. 85
[14] Asmaun Sahlan, Mewujudkan... h. 121
[15] Asmaun Sahlan, Mewujudkan..... h. 129
[16] Asmaun Sahlan, Mewujudkan.... h. 130
[17] Asmaun Sahlanm,  Mewujudkan... h. 138
[18] Observasi tanggal 6 dan 20 Maret 2014
[19]  Abhanda Amra. Dasar-Dasar.... h.89-90
[20] Asmaun Sahlan. Mewujudkan ... h. 138-139