Senin, 27 Mei 2013

'Aul Dan Radd



‘AUL DAN RADD

A.   Penyelesaian Warisan Secara Aul
A.    Masalah Aul
a.      Pengertian aul
dalam bahasa Arab ‘Aul mempunyai banyak arti yaitu: bermakna azh-zhulm artinya aniaya, tidak adil serta juga bermakna naik atau meluap. Selain itu juga berarti bertambah.[1]
      Sedangkan defenisi Aul menurut istilah fuqaha yaitu: bertambahnya jumlah harta waris dari yang telah ditentukan  dan berkurangnya bagian  para ahli waris. Hal ini terjadi karena banyaknya Ash habul furudl sehingga harta tersebut tidak mencupi untuk semua ahli waris yang ada padahal ada diantara mereka yang belum menerima bagian.Dengan demikian masalah pokoknya atau asal masalahnya harus ditambah sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah Ash Habul furudl yang ada meskipun bagian mereka menjadi berkurang.[2]
Oleh karena itu, agar dapat dilakukan pembagiannya sesuai dengan ketentuan bagianya maka, asal masalahnya harus ditambah sehingga setara dengan saham ahli waris.Dengan demikian kekuranganya dipikul oleh semua ahli waris tanpa menghalangi seorang pun dari warisan.

b.      Latar Belakang Terjadinya ‘Aul
Pada masa rasul sampai pada masa Abu Bakar kasus ‘Aul atau penambahan belum pernah terjadi.Maslah ‘aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khattab.
Secara lengkap riwayatnya dituturkan seperti berikut:
Seorang wanita wafat meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan.maka yang mesti diterima suami adalah: ½ sedangkan bagian dua orang sadara kandung perempuan adalah 2/3. Dengan demikian, fardlnya telah melebihi harta peninggalan mayat. Namun demikian kedua orang diatas tetap ingin untuk menuntut haknya sesuai dengan bagian yang telah disebutkan diatas.
Melengkapi kenyataan demikian Umar kebingungan dan berkata: sunguh aku tidak mengerti siapa diantara kalian yang harus didahulukan dan siapa yang harus diakhirkan. Umar kemudian mengajukan peroalan ini pada sahabat Rasulullah, diantaranya pada Zait bin Tsabit yang menganjurkan agar Umar menggunakan ‘Aul. Umar kemudian menerima anjuran tersebut dan berkata: tambahkanlah hak para Ash habul furudl  akan fardlnya. Kemudian para sahabat menyepakati hal tesebut maka jadilah hokum ‘aul sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat.[3]
Dengan demikian dapat dipahami bahwa, masalah ‘aul belum pernah terjadi pada masa Rasul maupun pada masa Abu Bakar. Akan tetapi baru terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Kemudian hampir seluruh sahabat menyepakati keputusan mengenai ‘aul tersebut sehingga dipakailah ‘aul hingga sekarang.






c.       Contoh Penyelesaian Harta Warisan Dengan Cara ‘Aul
Contoh kasus
Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan harta pusaka sebesar Rp 21 000.000 dengan ahli waris terdiri dari suami dan dua saudara perempuan. Hitunglah berapa bagian masing-masing ahli waris menurut hukum Islam
Jawab
Diketahui
Harta Rp 21000.000
Suami mendapat ½
Dua saudara perempuan 2/3
Asal masalah 6
Ahli waris
Ketentuan
bagian
perhitungan
Bagan
Masing-masing
Suami
½
3
3/6 x 21 000.000
10 500 000
Dua saudara perempuan
2/3
4
4/6 x 21 000 000
14 000 000
Jumlah
24 500 000

Maka untuk mengatasi hal demikian maka dipakailah system ‘aul, maka
Ahli waris
Ketentuan
Bagian
perhitungan
Bagian Masing2
Suami
½
3
3/7 x 21 000.000
9 000 000
Dua saudara perempuan
2/3
4
4/7 x 21 000 000
12 000 000
Jumlah
21 000 000
B.Masalah Radd
a.      Pengertian Radd
      “Kata radd menurut bahasa artinya I’adah, yaitu mengembalikan,). Kata radd juga berartiصَرَف (memulangkan kembali).[4] Sedangkan menurut istilah radd ialah: mengembalikan sisa harta warisan pada ahli warisnya sesuai dengan bagiannya masing-masing sehingga harta warisan menjadi habis tak tersisa.[5]
      Misalnya dalam suatu pembagian ahli waris, para ash habul furudl telah menerima haknya masing-masing tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa sementara tidak ada sosok kerabat lain sebgai ashabah maka sisa harta wris itu diberikan atau dikembalikan lagi pada para Ash habul furdl  sesuai bagian masing-masing.[6]

b.      Rukun-Rukun Radd
Radd terjadi bila memenuhi tiga rukun sebagai berikut :
a)      Adanya ashabul furudl
b)      Adanya kelebihan harta peninggalan setelah dibagikan kepada masing-masing ashabul furudl.
c)      Tidak ada ahli waris ashabah.

Apabila ketiga rukun itu tidak terpenuhi, tidak akan terjadi radd. Misalnya apabila para ahli waris semuanya terdiri atas asabah, atau beberapa orang ashabul furudl dan seorang ashabah, harta peninggalannya tidak akan tersisa atau kurang. Begitu juga apabila jumlah saham dari ahli waris sebesar jumlah asal masalah, sehingga tidak ada kelebihan sedikitpun sehingga tidak akan terjadi masalah radd.
c.       Ahli waris yang berhak memperoleh Radd
Radd dapat  diberikan kepada semua ash-habul furudl kecuali suami istri dan orang yang berhak menerima Radd meliputi golongan ashabul furud, mereka itu adalah :
1.      Anak perempuan
2.      Cucu perempuan dari anak laki-laki
3.      Saudara perempuan sekandung
4.      Saudara perempuan  seayah
5.      Ibu
6.      Nenek shahih
7.      Saudara perempuan seibu
8.      Saudara laki-laki seibu

Adapun ayah dan kakek  walaupun mereka  dalam keadaan tertentu termasuk ashabul furud, tetepi radd tidak boleh diberikan kepada mereka, karena dalam susunan ahli waris keduanya menjadi ashabah, yang kemudian mengambil sisa.[7]
d.      Macam-Macam radd
      Ada empat macam radd dan masing-masing mempuyai cara atau hkum tersendiri. Keempat macam itu ialah:
1.      Adanya ahli waris pemilik bagian yang sama dan tanpa adanya suami atau istri.
            Apabila ahli arisnya terdiri atas golongan ash habul furudl yang sahamnya sama tanpa adanya salah seorang dari suami atau istri maka caranya tinggal membagikan sesuai dengan jumlah ahli waris dengan tidak memperpanjang persoalan untuk mencapai jalan yang lebih mudah.
2.      Adanya pemilik bagian saham yang berbeda dan tanpa ada suami atau istri.
            Apabila ahli arisnya terdiri atas golongan ashabul furudl yang sahamnya berbeda tanpa adanya salah seorang dari suami atau istri maka warisan dibagikan sesuai dengan bagian saham mereka, bukan berdasarkan jumlah ahli waris.
            Contoh:
Seseorang meninggal dunia meninggalkan harta  sebesar 50 000. 000 dengan ahli waris ibu, saudara perempuan kandung dan saudara perempuan seayah. Hitunglah bagian masing-masing
Jawab
Harta Rp 50 000 000
Ibu mendapat 1/6
saudara perempuan kandung ½
saudara perempuan seayah 1/6
asal masalah 6
Ahli waris
ketentuan
Bagian
perhitungan
Bagan
Masing-masing
Ibu
1/6
1
1/6 x 50 000 000
8333.333,333
saudara perempuan kandung
½

3
3/6 x 50 000.000
25 000.000
saudara perempuan seayah
1/6
1
1/6 x 50 000.000
8333.333,333
Jumlah
41 666.666,67
                                    Maka terjadi kelabihan harta sebesar 50 000.000 - 41 666.666,67= 8 333.333,33
Untuk itu maka diradd kan menjadi
Ahli waris
ketentuan
bagian
perhitungan
Bagan
Masing-masing
Ibu
1/6
1
1/5 x 50 000 000
10 000.000
saudara perempuan kandung
½

3
3/5 x 50 000.000
30 000.000
saudara perempuan seayah
1/6
1
1/5 x 50 000.000
10 000.000

Jumlah
50 000.000

3.      Adanya pemilik bagian yang sama dan dengan adanya suami atau istri.
            Apabila ahli warisnya terdiri atas golongan ash habul furudl yang sahamnya sama tetapi bersama dengan salah seorang suami atau istri maka kaidah untuk menetapkan asanya ialah diambil dari kedudukan ash habul furudl yang tidak mendapatkan radd dan sisanya dibagikan sesuai dengan jumlah ahli waris yang berhak mendapatkan radd.
            Contoh: seorang istri meninggal dimana ia meninggalkan ahli waris yaitu: suami dan dua anak perempuang. Maka suami mendapat ¼.Dan sisanya ¾ dibagi rata diantara dua orang anak perempuan tersebut.
4.      Adanya pemilik bagian saham yang berbeda dan dengan adanya suami atau istri.
                        Apabila ahli warisnya terdiri atas golongan ash habul furudl yang sahamnya berbeda tetapi bersama dengan salah seorang suami atau istri maka kaidah pemecahannya dengan menetapkan menjadi dua masalah.
Masalah pertama, dalam susunan ahli warisnya tanpa dimasukkan suami atau istri.Masalah yang kedua, dalam susunan ahli warisnya dimasukkan suami atau istri.Masing-masing diletakkan tersendiri.
Contoh:
Seorang laki-laki meninggal dunia dengan meninggalkan istri, nenek dan 2 saudara perempuan seibu.Dengan perbandingan pemecahan masalah pertama:
Nenek dapat 1/6 dan 2 saudara perempuan seibu dapat 1/3 kemudian asal masalahnya adalah 6 maka, nenek menjadi 1/6 dan saudara perempuan seibu menjadi 2/6 sehingga sahamnya adalah 1+2=3.
Pada masalah kedua perhatikan table berikut
bagian
Jumlah
4
4
1/4
Istri
1
1
1/6
2/6
Nenek
2 Saudara perempuan seibu
3
1
2

Dari table diatas setelah diambil bagian oleh istri tersisa 3 saham lagi, yakni untuk bagian nenek bersama dengan saudara perempuan sibu. Ternyata untuk kedua masalah tersebut bagian nenek dan 2 saudara perempuan seibu adalah sama dengan pemecahan yang pertama diatas.






[1]M Ali Shabuni. Pembagian warisan menurut Islam.(Jakarta: Ema Insani Press, 1995) hal 97 
[2]Beni Ahmad Saebani. Fiqh MAwaris. (Bandung: Pustaka Setia, 2009) hal 201
[3]Abu Umar Basyir. Warisan Belajr Mudah Hukum Waris Sebagai Syari’at Islam.(Surakarta: Rumah Dzikir, 2006) hal 156-157
[4]Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah jilid 4 , (Jakarta: Darul Fath, 2004) hal: 503
[5] Azhari Abta, Djunaidi Abd Syakur. Ilmu Mawaris Al-Faraidl (Surabaya: Pustaka Hikamah, 2005)hal 101
[6]Beni Ahmad Saebani.Op.cit hal 213
[7]Muhammad ali as-habuniOp.Cithal: 149