Entri Populer

Entri Populer

Entri Populer

Entri Populer

Jumat, 16 Mei 2014



RUKUN IMAN
oleh
ADI SATRIA RAHMA
NORVA YULIANI
AYU RAHAYU
A.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Setiap orang umat Islam pasti dilandasi oleh tauhid yang benar. Yakni suatu keyakinan kepada Allah SWT. Maka salah satu dasar atau ponadasi dari akidah seseorang ialah adanya keimanan yang tertanam kuat didalam dirinya. Nah bentuk dari konkrit dari realisasi keimanan tersebut ialah dibuktikan dengan keyakinannya terhadap Rukun Iman. Dimana seseorang dikatakan telah sempurna imannya kepada allah apabila ia telah meyakini dengan sepenuh hati akan rukun iman yang enam tersebut.
Nah, untuk itulah pemakalah merasa tertarik untuk mengkaji lebih lanjut mengenai rukun Iman ini, bagaimana inti dari masing-masing rukun iman tersebut. Akan tetapi karena keterbatasan dari pihak pemakalah maka pemakalah hanya akan memaparkan 3 buah rukun iman saja, yakni iman kepada allah SWT, Iman kepada hari Kiamat dan Iman kepda Qada dan Qadar. Dan berikut ini akan dibahas lebih lanjut.
2.      Sub Pokok Pembahasan
Adapun yang menjadi sub pokok pembahasan dalam makalah ini adalah:
a.      Iman Kepada Allah SWT
b.      Iman Kepada Hari Akhir
c.       Iman Kepada Qada dan Qadar


















B.     PEMBAHASAN
1.      Iman kepada Allah SWT.
a)      Pengertian Iman kepada Allah SWt.
Iman kepada Allah SWT. Artinya percaya dan yakin Allah itu ada. Walaupun kita belum pernah melihat wujud-Nya, mendengar suara-Nya ataupun MenyentuhNya, sebab Allah itu bukanlah benda, Allah berbeda dengan segala sesuatunya.[1] Bagi seorang muslim, keimanan kepada Allah merupakan unsur imanyang paling penting Wajib bagi seorang muslim mempercayai Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
Adanya alam semesta beserta isinya, termasuk manusia dengan segala bentuk kelebihan dan kekurangannya, pasti ada yang menciptakan, yang menciptakan adalah Allah SWT. Untuk mengakui kebenaran dan keberadaan Allah SWT. Dibutuhkan keyakinan dalam hati, mengakui dan membenarkan tentang adanya Allah SWT.

b)     Sifat- sifat Allah SWT.
1)    Wujud (Ada)
Allah membimbing manusia untuk memahami adanya Allah melalui tanda-tanda di alam semesta. Adanya manusia beserta  keturunannya dari generasi ke generasi, adanya kelahiran dan kematian, adanya waktu siang dan malam yang berulang secara teratur, semuanya merupakan bukti adanya Allah.
2)    Qidam (Terdahulu)
Allah memiliki sifat terdahulu (paling awal). Allah telah ada sebelum segala sesuatu ada. Dialah yang menciptakan seisi dunia, malaikat, jin, manusia, benda-benda langit, dan semua yang ada di langit dan di bumi.
3)     Baqa (Kekal)
Allah berfirman dalam surat ar-Rahman [55]: 26-27
@ä. ô`tB $pköŽn=tæ 5b$sù ÇËÏÈ   4s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ  
26. semua yang ada di bumi itu akan binasa.
27. dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.


Semua makhluk, baik makhluk hidup maupun benda mati, seiring berjalannya waktu akan mati atau rusak. Tetapi, Allah tetap kekal dan tidak berubah, tidak menjadi lemah, tidak berubah, tidak akan berakhir sampai kapanpun.
4)    Mukhalawatu lil-H awadis (Berbeda dengan Makhluk)
Allah berbeda dengan makhluk yang diciptakan-Nya. Allah tidak sama dengan manusia, tidak sama dengan malaikat, tidak sama dengan jin, tidak sama dengan semua makhluk lainnya dalam hal sifat, perbuatan, kebutuhan, kekuasaan, dan sebagainya. Semua yang ada pada makhluk selalu memiliki keterbatasan sedangkan Allah tidak terbatas.
5)     Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri)
Allah tidak membutuhkan pihak manapun, tidak membutuhkan bantuan siapapun, tidak membutuhkan peralatan apapun. Sebelum segala sesuatu diciptakan, ketika Allah menciptakan makhluk untuk pertama kalinya, ketika kehidupan dunia terus berlangsung, ketika hari kiamat tiba, Allah tidak membutuhkan bantuan siapapun untuk mengatur dan menciptakan itu semua.
6)    Wah daniyah (Esa)
Allah adalah Tuhan satu-satunya, tidak ada sesuatupun yang memiliki kekuasaan setara dengan-Nya.
7)    Qudrah (Mahakuasa)
Allah memiliki kekuasaan yang sempurna, yang mengendalikan segala kekuasaan lain. Kekuasaan Allah berbeda dengan kekuasaan makhluk.
8)   Iradah (Berkehendak)
Allah memiliki kehendak untuk melakukan segala sesuatu tanpa saran atau dorongan dari pihak lain, tanpa paksaan dari pihak lain.
9)   Ilmu (Pandai atau Mengetahui)
Pengetahuan dan kepandaian Allah tidak terbatas. Allah mengetahui hukum-hukum dan ilmu pengetahuan manusia yang paling canggih sekalipun,yang saat ini telah diketahui maupun belum.

10)    Hayah (Hidup)
Allah hidup secara terus-menerus. Hal ini berbeda dengan manusia yang hidupnya diawali dengan kelahiran, tumbuh menjadi dewasa, dan berakhir dengan kematian.
11)     Sama’ (Maha Mendengar)
Allah Maha Mendengar, dan tidak ada yang membatasi-Nya. Pendengaran Allah sempurna dan tak berbatas. Hal ini berbeda dengan pendengaran manusia yang dibatasi oleh jarak dan volume suara, serta membutuhkan telinga atau alat bantu dengar.
12)    Basar (Maha Melihat)
Allah Maha Melihat segala sesuatu yang ada di alam semesta. Allah pasti melihat apa yang kamu kerjakan. Di malam hari ketika kamu berada di rumah seorang diri, saat semua orang telah tidur, Allah melihat apa yang kamu lakukan.
13)    Kalam (Berfirman/Berbicara)
Kalam artinya ucapan. Kalam Allah antara lain berupa beberapa kitab suci yang diturunkan kepada sejumlah Nabi/Rasul. Tak heran bila sering disebutkan bahwa kitab suci adalah kalam Allah.[2]

c)      Menampilkan prilaku sebagai cermin keyakinan akan sifat- sifat Allah SWT.
1)      Melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya.
2)      Meneladani sifat- sifat Allah sertamenampilkannya dalam kehidupan sehari- hari.
3)      Tidak berlaku syirik
4)      Memuji keagunganNya dan kebesaranNya
5)      Memperbanyak ibadah dan selalu berbuat baik dalam situasi apapun
6)      Tidak menyamakan Allah dengan Makhluknya
7)      Tidak menyekutukan Allah
8)      Tidak berlaku sombong
9)      Selalu berusaha dan berdo’a
10)  Berbuat baik kepada sesama
11)  Membiasakan membaca Alqur’an dan mengamalkan isi kandungannya
12)  Selalu berbuat baik kepada sesama.

d)     Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT
Untuk meningkatkan iman kepada Allah SWT, dapat ditempuh
langkah-langkah:
1)      mempelajari dan merenungkan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an;
2)      memerhatikan tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam semesta;
3)      mempelajari ilmu pengetahuan.
Seorang muslim yang beriman kepada Allah memiliki sifat-sifat dan perilaku tertentu. Beberapa sifat dan perilaku orang yang beriman kepada Allah antara lain:
1)      selalu merasakan kehadiran Allah;
2)      selalu berserah diri kepada Allah;
3)      melaksanakan perintah Allah serta menjauhi larangannya.
Perilaku tersebut tumbuh seiring dengan meningkatnya iman. Ketika imanmu telah bertambah maka kamu tak perlu diperintahkan untuk berbuat demikian, kamu akan melakukannya dengan senang hati.[3]

2.      Iman kepada Hari Akhir
a.      Pengertian Beriman Kepada Hari Akhir
Iman artinya percaya, kiamat menurut bahasa artinya kebangkitan atau kehancuran.[4] Kiamat menurut istilah artinya dibangkitkannya manusia dari alam kubur dan hancurnya alam semesta. Jadi, iman kepada hari kiamat artinya mempercayai adanya hari hancurnya alam semesta dan dibangkitkannya manusia dari alam kubur ke alam akhirat untuk menerima keadilan dari Allah SWT.
Hari akhir ialah suatu hari dimana dunia dan seisinya mengalami kehancuran dan kebinasaaan. Hari akhir merupakan rukun iman yang ke-5 yang wajib diimani dan tak ada satupun orang yang mengetahui kapan terjadi hari kiamat itu. Kiamat ini ada dua macam, yaitu kiamat sugra (kiamat kecil) dan kiamat kubra (kiamat besar). Kiamat sugra adalah hari kematian seseorang, sedangkan kiamat kubra yaitu hari hancurnya alam semesta (termasuk manusia). Adapun kiamat yang dibicarakan dalam pembahasan ini adalah kiamat kubra. Allah SWT menyatakan bahwa peristiwa hari kiamat menjadi rahasia-Nya, tak seorang pun yang tahu (termasuk Rasulullah SAW). Peristiwa itu semata-mata menjadi rahasia Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 187:
y7tRqè=t«ó¡o Ç`tã Ïptã$¡¡9$# tb$­ƒr& $yg8yóßD ( ö@è% $yJ¯RÎ) $ygãKù=Ïæ yZÏã În1u ( Ÿw $pkŽÏk=pgä !$pkÉJø%uqÏ9 žwÎ) uqèd 4 ôMn=à)rO Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 Ÿw ö/ä3Ï?ù's? žwÎ) ZptGøót/ 3 y7tRqè=t«ó¡o y7¯Rr(x. ;Å"ym $pk÷]tã ( ö@è% $yJ¯RÎ) $ygßJù=Ïæ yZÏã «!$# £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÊÑÐÈ  
”mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui". (QS. Al-A’raf: 187)

Banyak sekali ayat-ayat al-Qur'an yang menerangkan tentang hari akhir itu, diantaranya yang terdapat pada QS Al-Hajj : 7
¨br&ur sptã$¡¡9$# ×puŠÏ?#uä žw |=÷ƒu $pkŽÏù žcr&ur ©!$# ß]yèö7tƒ `tB Îû Íqç7à)ø9$# ÇÐÈ
                 ’’Dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya ; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.’’


b.      Bukti/Dalil Kebenaran Akan Terjadinya Hari Akhir
1)      Dalil aqli
Dalil ‘aqli merupakan argumen untuk memperkuat dalil naqli yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah, karena argumen al-Quran sendiri sudah sangat mampu mengatasi keragu-raguan manusia tentang adanya hari kiamat tersebut. Dalil aqli atau pengetahuan, bahwa semua makhluk hidup di dunia tidak ada yang kekal, semua pasti rusak termasuk alam semesta dan seisinya akan rusak. 

2)      Dalil naqli
Allah berfirman dalam surat Q. S al-Zalzalah ayat 1-5
#sŒ ÏMs9Ìø9ã ÞÚöF{$# $olm;#tø9Î ÇÊÈ ÏMy_t÷zr&ur ÞÚöF{$# $ygs9$s)øOr& ÇËÈ tA$s%ur ß`»|¡RM}$# $tB $olm; ÇÌÈ 7Í´tBöqtƒ ß^ÏdptéB $ydu$t7÷zr& ÇÍÈ ¨br'Î/ š­/u 4Óyr÷rr& $ygs9 ÇÎÈ
1.      Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),
2.      Dan bumi Telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
3.  Dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",
4.  Pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
5.Karena Sesungguhnya Tuhanmu Telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.

c.       Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir
1)      Dengan beriman kepada hari akhir, seseorang akan selalu diingatkan agar tidak lupa terhadap kewajiban dan tidak terlena dengan kesenangan dan kehidupan dunia.
2)      Dengan beriman kepada hari akhir, bisa menyadarkan manusia bahwa kehidupan di dunia  adalah kehidupan sementara dan tidak kekal, suatu saat kehidupan dunia yang fana akan berakhir dan berlanjut pada kehidupan akhirat yang kekal dengan kondisi kehidupan sesuai dengan amal perbuatan waktu hidup di dunia.
3)      Menjadi suatu pendorong atau motivasi untuk beramal sholeh. Karena setiap yang hidup itu pasti akan mati.
4)      Pandangan hidup menjadi optimis karena hidup itu adalah ladang pahala.
5)      Lebih berhati-hati lagi dalam berbuat agar tidak menjadi ranjau-ranjau dosa yang dapat menjatuhkan kita kedalam neraka.
6)      Memperkuat keyakinan kita akan kekuasaan Allah SWT yang Maha Kuasa.

3. Iman Kepada Qhada Dan Qadar
a.  Pengertian beriman kepada Qadha dan Qadar
Kata qadha berasal dari Bahasa Arab   قَضَى– يَقْضِىْ-قَضَاءً  qadha menurut bahasa adalah ketentuan atau ketetapan. Sedangkan menurut istilah adalah ketetapan atau ketentuan Allah sejak zaman azali, yang belum diketahui dan belum diterima oleh makhluk-Nya. Azali artinya ketetapan itu sudah ada sebelum keberadaan makhluk.
Qadar juga berasal dari Bahasa arab  قَدَرَ – يَقْدِرُ – قَدْرًMenurut bahasa qadar berarti ukuran atau aturan. Secara istilah qadar berarti ketentuan atau ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah atas makhluk-Nya dan telah diterima serta telah berlaku bagi makhluk-Nya.[5]  
Jadi beriman kepada Qada dan Qadar yaitu meyakini adanya ketetapan Allah yang berlaku terhadap segala makhluk-Nya baik ketentuan yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi. Adapun Qadha dan Qadar atau juga disebut dengan takdir dan takdir itu dibagi menjadi dua macam yaitu:
1) Takdir Mubram
Takdir mubram yaitu takdir yang tidak dapat diubah atau diusahakan oleh manusia. Semua terjadi semata-mata karena kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa. Takdir ini pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan kejadiannya. Contoh takdir mubram adalah lahir, kematian, jodoh, rezeki dan kiamat.
Contoh kasus takdir mubram adalah seperti kisah berikut: Bu Waras sakit parah, walaupun sudah berikhtiar berobat ke dokter ahli baik di dalam maupun di luar negeri jika Allah menentukan ajalnya tiba maka tak ada yang bisa menolongnya. Bu Waras akhirnya meninggal dunia. Dan pada kasus yang lain, seseorang yang tertimpa reruntuhan bangunan karena terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat  hingga  terluka parah, patah kaki dan tangannya jika belum sampai ajalnya maka dia tidak mati.
2) Takdir Muallaq
Takdir muallaq yaitu takdir yang erat kaitannya dengan usaha manusia. Artinya takdir itu terjadi berkaitan dengan usaha manusia.Dalam hal ini dapat diambil contoh keadaan manusia karena usaha kerasnya hingga menjadi orang yang sukses dan kaya, usaha ingin tetap sehat dengan cara rajin berolah raga, usaha temanmu yang sangat rajin belajar sehingga menjadi yang terpandai di kelasnya, dan sebagainya.[6]
b. Bukti atau Dalil kebenaran akan adanya Qada dan Qadar
Adapun dalil yang berkenaan dengan Qada dan Qadar diantaranya.
a.   Surat Al- Hadiid: 22
!$tB z>$|¹r& `ÏB 7pt6ŠÅÁB Îû ÇÚöF{$# Ÿwur þÎû öNä3Å¡àÿRr& žwÎ) Îû 5=»tGÅ2 `ÏiB È@ö6s% br& !$ydr&uŽö9¯R 4 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ n?tã «!$# ׎Å¡o ÇËËÈ  
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

b.   Surat Ali Imran :145
$tBur tb$Ÿ2 C§øÿuZÏ9 br& |NqßJs? žwÎ) ÈbøŒÎ*Î/ «!$# $Y7»tFÏ. Wx§_xsB 3 ÆtBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO $u÷R9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB `tBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO ÍotÅzFy$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB 4 ÌôfuZyur tûï̍Å3»¤±9$# ÇÊÍÎÈ
 “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Ayat- ayat diatas menunjukan bahwa Takdir Allah memang benar-benar ada, baik takdir itu sesuai dengan keinginan manusia atau tidak sesuai dengan harapan manusia. Bahkan segala sesuatu yang berkenaan dengan Maklhuk semuanya berlaku sebagai takdir Allah.[7]
c.       Ciri- ciri perilaku orang yang beriman kepada Qada dan Qadar Allah
Adapun ciri- ciri perilaku orang yang beriman kepada Qada dan Qadar Allah adalah sebagai berikut:
1)      Menerima segala sesuatu yang telah terjadi pada dirinya dan pada alam Raya.
2)      Selalu berusaha untuk memperbaiki kehidupan dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena ia sadar bahwa kita sebagai manusia belum mengetahui secara pasti dan jelas sesuatu yang akan terjadi pada dirinya, di masa yang akan datang karena semua ketetapan Allah itu hanya Miliknya dan hanya di ketahui secara pasti oleh Allah sendiri
3)      Tidak henti- hentinya berdoa demi kebaikan dan kesuksesan, serta keselamatan hidup.[8]
4)      Sabar atau tabah hati
Sabar dalam pengertian luas adalah menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diinginkan maupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Para ahli tasawuf membagi kesabaran dalam tiga macam, yaitu: sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam menjalankan kewajiban dari Allah SWT dan sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan segala maksiat.
5)      Tidak putus asa
6)       Ikhlas, tawadhu dan tidak takabur
Ikhlas artinya tulus, sepenuh hati menerima sesuatu. Dalam hubungan dengan qadha dan qadar, yang dimaksud ikhlas adalah menerima segala ketentuan Allah SWT dengan ridha. Maksud ridha di sini adalah hendaknya kita bersyukur jika takdir yang terjadi pada kita adalah sesuatu yang menggembirakan. Kita rendah hati (tawadhu’) bahwa nikmat yang kita peroleh itu karena anugerah dari Allah semata. Kita tidak boleh takabur (sombong) seakan akan keberhasilan itu mutlak karena usaha kita. Jika kita ditimpa sesuatu yang merugikan, maka kita harus sabar. Ridha terhadap qadha dan qadar hukumnya wajib. Dasarnya adalah hadis Qudsi berikut:
عَنْ أَبِي هِنْدٍ الدَّارِيِّ الْحَجَّامِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَيَصْبِرْ عَلَى بَلائِيفَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَايَ (. رواه الطبراني)
Dari Abi Hindun Ad Dari Al Hajami berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW Bersabda: Allah  berfirman: Barangsiapa yang tidak ridha terhadap qadla-Ku dan tidak sabar menerima cobaan-Ku, maka carilah olehmu Tuhan selain Aku.(HR Ath-Thabrani)
7)      Tawakkal
8)      Semangat Ikhtiar
Jika manusia sadar bahwa kebahagiaan tidak datang begitu saja melainkan harus diusahakan dan diperjuangkan maka dia akan khawatir jika tidak berusaha secara sungguh-sungguh walaupun yang datang kadangkala bukan kebahagiaan tetapi sesuatu yang menyusahkan. Sebab itu manusia harus bekerja keras.[9]
d.      Hikmah Beriman Pada Qada Dan Qadar
Diantara hikmah yang dapat diambil yaitu:
1)      Melatih diri untuk selalu senantiasa bersyukur
2)      Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
3)      Memupuk sikap optimis dan giat bekerja
4)      Menenangkan jiwa
5)      Sumber motivasi untuk meraih tujuan
6)      Menumbuhkan kesadaran bahwa alam semesta beserta isinya berjalan sesuai dengan ketentuan Alllah
7)      Menumbuhkan sikap dan prilaku terpuji.[10]


C.     PENUTUP
1.      Kesimpulan
Iman kepada Allah SWT. Artinya percaya dan yakin Allah itu ada. Walaupun kita belum pernah melihat wujud-Nya, mendengar suara-Nya ataupun MenyentuhNya, sebab Allah itu bukanlah benda, Allah berbeda dengan segala sesuatunya.
Allah juga memiliki sifat-sifat yang wajib kita miliki, dimana sifat Allah itu juga bisa melambangkan akan keagungan dan kebesaran Allah. Dan semua itu bisa diperhatikan dari masing-masing nama tersebut.
Kemudian iman kepada hari kiamat artinya mempercayai adanya hari hancurnya alam semesta dan dibangkitkannya manusia dari alam kubur ke alam akhirat untuk menerima keadilan dari Allah SWT.maka oleh karena itu sudah merupakan kewajiban bagi orang Muslim untuk meyakinai dengan sepenuh hati bahwa suatu saat alam dan isinya ini pasti akan dimusnahkan oleh Allah, oleh karena itu marilah setiap individu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Sedangkan beriman kepada Qada dan Qadar yaitu meyakini adanya ketetapan Allah yang berlaku terhadap segala makhluk-Nya baik ketentuan yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi. Dengan demikian dengan beriman kepada Qada dan Qadar maka akan memperkuat keyakinan seseorang dalam meresapi akan ke maha kuasaan Allah SWT. Selain itu juga bisa meningkatkan semangat hidup dan etos kerja seseorang serta terhindar dari sifat sombong dan putus asa.
2.      Saran
Dari uraian makalah diatas jika terdapat kesalahan dan keurangan baik dari segi penulisan maupun dari segi isi dan analisinya maka pihak pemakalah bersedia menerima saran dan kritikan dari segenap pembaca demi kesempurnaan karya tulis ilmiah yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Nasikin DKK, Agama Islam, (Jakarta : Erlangga, 2011)

Siti Nuryaningsih dan Noor Imanah, Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VII,( Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan,Kementerian Pendidikan Nasional, 2011.)

Nasrun Rusli, Aqidah Akhlak I, (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan agama Islam dan Universitas Terbuka , 200),

Kaelany, Islam, Iman dan Amal shaleh,(Jakarta:PT.Rineka Cipta,2000)

Rusli, Materi Pokok Akidah Aklhak,( Jakarta:Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam,1992)

Tarmidi, Pendidikan Agama Islam,(Jakarta: PT Adfale Prima Cipta, 2007)

wiki, http://ms.wikipedia.org/wiki/Qada_dan_qadar diakses selasa 30 april 2013


 


[1] Muhammad Nasikin DKK, Agama Islam, (Jakarta : Erlangga, 2011)h. 10
[2] Siti Nuryaningsih dan Noor Imanah, Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VII,( Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan,Kementerian Pendidikan Nasional, 2011.) hal 26- 32
[3] Opcit, Siti Nuryaningsih dan Noor Imanah, Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VII, hal 139- 141
[4]  Nasrun Rusli, Aqidah Akhlak I, (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan agama Islam dan Universitas Terbuka , 200), hal.111
[5] Kaelany, Islam, Iman dan Amal shaleh,(Jakarta:PT.Rineka Cipta,2000) h. 161
[6] Karwadi,ibid,hal 2-3
[7] Rusli, Materi Pokok Akidah Aklhak,( Jakarta:Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam,1992) h. 127-128
[8] Tarmidi, Pendidikan Agama Islam,(Jakarta: PT Adfale Prima Cipta, 2007) h.67-68
[9]wiki, http://ms.wikipedia.org/wiki/Qada_dan_qadar diakses selasa 30 april 2013
[10]  Tarmidi. Op.cit